KARANGANYAR, Expose.co.id – Ibadah kurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan, melainkan manifestasi ketakwaan yang harus dibarengi dengan keilmuan yang mumpuni. Menyongsong Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, Pimpinan Anak Cabang (PAC) LDII Desa Ngringo mengambil langkah progresif dengan menggelar "Pelatihan Juru Sembelih Hewan Kurban" di Komplek Masjid Baitul Fath, Winong, Minggu malam (17/5/2026).
Bekerja sama dengan Perkumpulan Juru Sembelih Halal Indonesia (JULEHA), kegiatan ini bertujuan untuk memastikan setiap tetes darah hewan kurban yang tumpah di wilayah Ngringo memenuhi standar ASUH: Aman, Sehat, Utuh, dan Halal.
Pelatihan yang dimulai selepas Isya ini diikuti oleh perwakilan takmir masjid dan kelompok pengajian di bawah naungan PAC LDII Ngringo. Setiap masjid mengirimkan delegasi terbaiknya untuk menyerap ilmu yang nantinya akan ditularkan kepada panitia kurban di lingkungan masing-masing.
Ketua PAC LDII Desa Ngringo, Adv. Drs. H. Suparman, S.H., BKP., menegaskan bahwa profesionalisme juru sembelih adalah kunci dari kualitas daging yang akan dikonsumsi masyarakat.
“Kita tidak ingin prosesi kurban dilakukan asal-asalan. Penyembelihan harus memenuhi syariat sekaligus memperhatikan aspek kesejahteraan hewan (animal welfare). Dengan menggandeng JULEHA, kami ingin mencetak juru sembelih yang tidak hanya berani, tapi juga mengerti fiqih dan teknik yang higienis,” ungkap Suparman.
Teknik "Gesper": Inovasi Efisiensi dan Kasih Sayang
Bintang dalam sesi pelatihan malam itu adalah pemaparan teknik "Gesper" oleh Agung Supriyanto, S.E., dari tim JULEHA. Teknik perobohan sapi ini menjadi sorotan karena inovasinya yang memungkinkan sapi berukuran besar roboh dengan lembut hanya dengan bantuan tiga hingga empat orang.
"Metode ini menerapkan prinsip ihsan. Hewan tidak dibuat stres atau tersakiti secara berlebihan sebelum disembelih. Jika hewan tenang, kualitas dagingnya pun akan jauh lebih baik karena tidak terjadi penumpukan asam laktat akibat stres," jelas Agung saat mempraktikkan simulasi di hadapan peserta.
Selain teknik perobohan, para peserta juga dibekali pengetahuan mengenai standar ketajaman bilah, posisi titik sembelih (mar'iy dan hulqum), hingga manajemen penanganan daging pasca-sembelih agar terhindar dari kontaminasi bakteri.
Antusiasme peserta terlihat saat sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Sebagaimana terekam dalam dokumentasi IMG-20260518-WA0040.jpg, para peserta yang terdiri dari berbagai lintas usia ini tampak kompak dan serius menyimak setiap detil instruksi.
Keterlibatan tim teknis seperti Imam Rofik, Ghoni, dan Ramdani memastikan edukasi ini dapat terpublikasi secara luas agar masyarakat merasa tenang. Melalui standarisasi juru sembelih halal ini, PAC LDII Ngringo berharap pelaksanaan kurban tahun 2026 menjadi lebih tertib dan profesional.
Langkah ini membuktikan bahwa penguatan literasi agama jika dipadukan dengan keterampilan teknis akan melahirkan manfaat sosial yang besar. Masyarakat kini tak perlu ragu lagi, karena kurban di tangan para juru sembelih yang kompeten bukan hanya sah secara hukum agama, tetapi juga sehat dan penuh berkah. (Ghoni)


